SUSTAINABLE SUCCESS

Kesederhanaan bukan berarti bodoh. Kesederhanaan dalam pola pikir dan tindakan merupakan pencapaian tingkat intelektualitas yang tertinggi.

 

Kecuali Anda mendapat durian runtuh, seperti warisan atau undian, maka kesuksesan harus ditebus dengan harga cukup mahal. Anda sekolah tinggi-tinggi, menyiapkan waktu ekstra, dan terus menerus berusaha, sebelum kesuksesan menghampiri. Itupun bukan garansi seratus persen kesuksesan akan tiba. Ketika Anda sudah sukses, pepatah “Semakin tinggi maka semakin kencang anginnya” akan berlaku. Waktu Anda akan semakin sempit, bahkan mungkin akan dicemburui.

Dunia koorporasi lebih kompleks daripada tingkat individu. Kesuksesan suatu perusahaan akan memancing kompetitor baru yang mencoba mencuri pasar Anda. Tidak hanya itu imitasi atau “me-too” lazim menjadi strategi cepat untuk mencuri kesuksesan. Kecemburuan tidak hanya muncul dari kompetitor, konsumen Anda juga menjadi “benci tapi rindu”. Mereka benci melihat suatu perusahaan meraih kesuksesan dalam jangka waktu cukup panjang, apalagi bila kesuksesan itu berujung pada dominasi. Mereka akan mencoba mencari dan bersimpati pada sang “underdog”. Sederhananya, ketika korporasi Anda sukses, maka everybody will be gunning at you.

Ilustrasi terakhir dalam kesuksesan dalam industri teknologi tinggi adalah Google.com. Mungkin Anda sudah bosan membaca atau mendengar cerita sukses mereka pada tahun 2005. tapi itulah realitas. Pemenang selalu mendapatkan liputan media utama. Google.com dianggap gold mine, lebih jauh lagi dianggap penyelamat industri iklan internet yang hampir karam akibat bubble economy. Yang menjadi pertanyaan, apakah kesuksesan Goole.com bersifat sustainable atauhanya menjadi bagian dari letupan positif dalam tren ekonomi? Terus terang, hanya waktu ke depan yang dapat menjawab. Terlepas dari nasib Google.com, ada beberapa prinsip dari sustainable success, bila kita mau meluangkan waktu sejenak untuk melihat sejarah dan pengalaman.

 

Prinsip Sustainable Success

Prinsip pertama adalah sedia payung sebelum hujan. Hidup adalah roda yang berputar merupakan pernyataan pendek yang menggambarkan kejujuran yang kita hadapi semua. Kesuksesan hari ini tidak akan bertahan lama, kecuali kita mempersiapkan diri untuk kesuksesan di hari esok.

Microsoft contohnya. Sang “raja” ini terkenal memiliki cadangan likuiditas yang sangat kuat, bahkan konon terbanyak di dunia. Cadangan ini membuat Microsoft menjadi fleksibel untuk memasuki banyak peluang baru. Beranjak dari operating system dan office application, Microsoft saat ini sudah masuk ke dalam industri games, baik hardware maupun content, network, dan database application, internet dan yang terakhir adalah applikasi untuk mobile.

Prinsip kedua adalah mentalitas pemenang. Sering kali perusahaan mendapatkan lucky break dan kesuksesan tiba-tiba muncul. Tetapi, hanya perusahaan yang memiliki mental pemenang yang dapat mempertahankan kesuksesan ketika lucky break sudah memudar. Perusahaan yang bermental pecundang akan terjebak dalam perilaku nonefisien dan nonefektif, di mana mereka merasa bahwa kesuksesan akan berlangsung selamanya, tanpa perlu terus dipupuk.

Prinsip ketiga adalah perilaku adaptif. Mungkin lagi-lagi Anda sudah bosan membaca dan mendengar kata adaptif, tetapi demikian adanya. Banyak perusahaan telah terkubur atau menjadi sasaran dari hostile take-over akibat sikap keras kepala terhadap perubahan.

Prinsip substainable success tidak serumit seperti yang dibayangkan. Untuk apa rumit, yang penting adalah penerapannya. Hal ini kembali terkait dalam prinsip keempat, yaitu kesederhanaan.

Keserdahanaan bukan berarti bodoh. Kesederhanaan dalam pola pikir dan tindakan merupakan pencapaian tingkat intelektualitas yang tertinggi.

Semoga semua ini dapat membantu Anda atau perusahaan yang Anda miliki atau pimpin.

 

 

by : Rhenald Kasali

        Ketua Program Ilmu Manajemen-Pasca Sarjana UI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: