Manajemen Versus Kepemimpinan

Jika ada suatu hal yang jelas-jelas menandai kemerosotan dan keruntuhan peradaban maupun perusahaan, itu adalah perubahan yang fatal dari kepemimpinan ke manajemen. Kesempurnaan adalah tanda dari kepemimpinan; dan hal yang sedang-sedang saja adalah tanda dari manajemen.

Kapten Grace Hopper, seorang nyonya tua dari angkatan laut, belum lama ini menarik perhatian kami pada sifat dari manajemen dan kepemimpinan yang secara alami bertentangan. Tidak ada seorang pun, katanya, yang pernah mengelola orang-orang di medan tempur. Ia ingin lebih menekankan pada ajaran kepemimpinan. Namun, kepemimpinan tidak dapat diajarkan lebih banyak lagi daripada kreativitas atau cara menjadi jenius.

Generalstab telah mencoba mati-matian selama seratus tahun untuk melatih suatu generasi pemimpin bagi angkatan bersenjata Jerman, namun tidak pernah berhasil sebab orang-orang yang memuaskan atasan mereka (para manajer), memperoleh jabatan tinggi, sementara orang-orang yang memuaskan mereka yang berpangkat rendah (para pemimpin), memperoleh teguran.

Para pemimpin adalah penggerak dan pengguncang, orisinal, penemu, tidak terduga, imajinaf, penuh dengan kejutan yang mempermalukan musuh di masa perang dan markas besar di masa damai. Para manajer adalah orang yang suka main aman, konservatif, dapat diduga, menyatukan orang-orang dalam organisasi dan pemain dalam tim, mengabdikan diri untuk menjaga kemantapan.

Para pemimpin besar memiliki gairah untuk persamaan derajat. Lihatlah Raja Daud dan Alexander Agung. Mereka merendahkan diri, berbagi makanan yang sama dengan anak buah mereka, memanggil anak buah mereka dengan nama depan, berbaris bersama mereka di tengah panas, tidur di atas tanah, dan yang pertama berada di atas tembok kota. Sebuah ode terkenal karangan seorang prajurit Yunani yang sudah lama menderita, Archilochus, mengingatkan kita bahwa para prajurit tidak dapat dibodohi dalam sekejap oleh seorang bertipe eksekutif yang mengira dirinya sebagai seorang pemimpin.

Di lain pihak, bagi para manajer, gagasan mengenai persamaan derajat adalah tidak pas, dan tentunya, kontra produktif. Di sini promosi, bonus, fasilitas, dan kekuasaan adalah nama permainannya, kekaguman dan penghormatan pada pangkat adalah segala-galanya. Menurut mereka inilah yang merupakan inspirasi dan motivasi bagi semua pria dan wanita yang baik. Apa jadinya manajemen tanpa pengurusan surat-surat yang kaku, aturan bertingkah laku, perhatian pada hubungan sosial, politik dan agama yang sesuai, pengawasan seksama terhadap kebiasaan dan tingkah laku, dan seterusnya yang memuaskan para pemegang saham dan memberikan rasa aman?

Jika kalian mencintaiku, kata sang pemimpin terbesar, kalian akan mematuhi perintahku. Jika kalian tahu sesuatu yang baik untuk kalian, kata sang manajer, kalian akan mematuhi perintahku, dan tidak macam-macam.

Itulah sebabnya mengapa kebangkitan manajemen selalu menandai kemerosotan budaya. Jika pihak manajemen tidak menyukai musik Bach, baiklah, tidak akan ada musik Bach; jika pihak manajemen menyukai kalimat sentimental murahan yang memuja-muja kualitas yang berguna bagi keberhasilan, semua kaum muda akan mengucapkan slogan panjang tersebut; jika selera pihak manajemen akan seni merupakan segala sesuatu yang akan dijual–selera murahan yang klise, membosankan, dan biasa sajaitulah yang akan kita dapatkan; jika pihak manajemen tertarik pada iklan cengeng yang mendayu-dayu, itulah yang akan didapatkan oleh masyarakat; jika pihak manajemen harus mencerminkan citra perusahaan dalam gedung-gedung baru yang trendi, namun berselera rendah, monumen tua yang baik akan diruntuhkan.

Menurut Hukum Parkinson, yang menunjukkan bagaimana pihak manajemen melahap semuanya, ia menambahkan suatu hal yang dinamakannya Hukum Pandir: Para manajer tidak akan mempromosikan orang yang kemampuannya dapat mengancam posisi mereka sendiri; oleh karena itu, saat kekuasaan manajemen menyebar semakin luas, mutu barang dan jasa perusahaan itu semakin menurun, jika hal itu masih memungkinkan. Singkatnya, sementara pihak manajemen menghindari persamaan derajat, mereka menerima hal yang berharga.

Di sisi lain, kepemimpinan adalah jalan keluar untuk meloloskan diri dari hal yang berharga. Semua simpanan karya seni, ilmu pengetahuan, dan sastra dari masa laluyang menjadi masukan bagi semua peradabandatang kepada kita dari segelintir pemimpin. Oleh karena mutu kepemimpinan itu sama di semua bidang, sang pemimpin hanyalah seorang yang menetapkan teladan tertinggi ; dan untuk melakukan hal itu dan membuka jalan menuju pengetahuan dan penerangan yang lenih tinggi, sang pemimpin harus menghancurkan kemapanan. Sebuah kapal akan aman jika berada di pelabuhan, kata Kapten Hopper saat berbicara tentang manajemen, namun sebuah kapal tidak dibangun untuk itu, tambahnya, menunjukkan adanya kebutuhan akan kepemimpinan. Para pemimpin sejati memberi inspirasi karena mereka memiliki inspirasi itu, mengejar tujuan yang lebih tinggi, tanpa ambisi pribadi, idealis, dan tidak mudah disuap.

Tentunya ada sebagian sifat manajer dalam setiap pemimpin, sebagaimana ada sebagian sifat pemimpin di setiap manajer. Rahasianya adalah bagaimana mencapai keseimbangan dan menetapkan prioritas. Dalam Alkitab, Kaum Ahli Kitab dan Farisi ditegur karena keberpihakan mereka pada suatu sisi: Mereka mengawasi hal-hal kecil dengan sangat seksama, namun saat menangani orang lain mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetian, yang kebetulan merupakan mutu kepemimpinan utama. Sang Guru berkeras bahwa kedua kondisi piliran itu perlu: Yang satu harus dilakukan (katakanlah mengenai pembukuan) dan yang lain jangan diabaikan. Namun ,orang buta membimbing orang buta membimbing orang buta, lanjutnya, yang membalik urutan prioritas, yang menepis nyamuk dalam minuman, tetapi menelan unta yang ada di dalam minuman itu. Begitu besar perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan sehingga hanya orang buta yang akan terbalik mengatur mereka. Namun, nampaknya hal itulah yang sedang kita lakukan sekarang ini.

Tentu saja, itulah yang telah dilakukan selama berabad-abad. Pada masa kehidupan Sokrates, kaum filsuf membesar-besarkan cara berpakaian dan bertingkah laku yang khusus. Tentu saja semua itu hanya untuk dipamerkan; itu merupakan berpakaian demi keberhasilan dengan pembalasan demi keseluruhan tujuan merek pendidikan retorika, yang mereka ciptakan dan jual dengan harga tinggi kepada kaum muda yang ambisius untuk membuat mahasiswa itu berhasil sebagai pengacara di pengadilan, tokoh pemimpin dalam kelompok masyarakat, atau seorang promotor yang sukses pada suatu bisnis beresiko dengan menguasai teknik-teknik yang tidak dapat ditolak dalam membujuk dan menjual barang yang ditawarkan oleh para filsuf.

Itulah pendidikan klasik yang kita anut akibat dorongan Santo Agustinus. Ia telah belajar dari pengalaman pahit bahwa ia tidak dapat mempercayai wahyu sebab ia tidak dapat mengendalikan hal itu. Hal yang dibutuhkan oleh masyarakat menurutnya adalah sesuatu yang lebih dapat ditangani dan diandalkan oleh masyarakat daripada wahyu atau bahkan nalar, dan itulah persisnya ditawarkan oleh pendidikan retorika.

Selama berabad-abad, jubah dan ijasah akademik tidak pernah gagal dalam menjaga masyarakat untuk menciptakan jarak, mengilhami suatu kekaguman yang layak bagi profesi tertentu, dan mengeluarkan hawa keagungan dan misteri yang sama baiknya dengan uang di bank. Empat fakultas, teologi, filsafat, kedokteran, dan hukum, telah menjadi tempat pertumbuhan yang tahan lama bukan hanya bagi kebijakan profesional, melainkan juga untuk ocehan dan bayaran yang dengan begitu murah hati diperlihatkan pada pandangan publik oleh Plato, Rebalais, Moliere, Swift, Gibbon, A.E. Housman, H.L. Mencken, dan lainnya.

Kelihatannya, para manajer mengetahui harga dari segala sesuatu, tapi tidak tahu nilai dari apa pun karena bagi mereka nilai terletak pada harganya. Bagi mereka uang adalah hal yang membuat bisnis dapat dikelolauang adalah angka murni; dengan mengubah semua nilai menjadi angka, segala sesuatu dapat dimasukkan ke dalam komputer dan ditangani dengan mudah dan efisien. Berapa harganya? menjadi satu-satunya pertanyaan yang perlu kita ajukan.

Tentu saja, pemikiran carilah kebebasan keuangan terlebih dahulu dan semua hal lain akan ditambahkan dikenal sebagai suatu pembalikan kitab suci dan suatu pemutarbalikan nilai yang tidak bermoral.

Untuk mempertanyakan kebenaran utama itu, seseorang hanya perlu mempertimbangkan upaya keras dari pikiran, keinginan, dan khayalan yang diperlukan untuk membela kebenaran tersebut. Saya tidak pernah mendengar, misalnya, ada seniman, pakar bintang, pakar ilmu alam, penyair, atlet, musisi, sarjana, atau bahkan politikus, yang bersama-sama memasuki lembaga pendidikan bergengsi, kelompok terapi, serangkaian kuliah, program tambahan, atau klinik guna menyiapkan diri dengan slogan, klise moral, atau latihan spiritual berupa dialog yang dilakukan secara cermat untuk menyerahkan diri mereka pada hal yang disebut pola pikir kekayaan.

Cabang ilmu pengetahuan kuno pun tidak bersandar pada para pengacara, manajer dari para manajer, untuk membuktikan pada dunia bahwa mereka tidak menipu. Mereka yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan kepada umat manusia menikmati pekerjaan mereka, dan tidak harus memberikan alasan, beriklan, atau berceramah untuk membuat diri mereka menikmati semua hal yang sedang mereka lakukan.

Dalam kelas saya terakhir, seorang mahasiswa manajemen bisnis yang lulus dengan kehormatan membuat sebuah karya tulis yang menarik, penuh instropeksi yang sehat. Berkali-kali saya bertanya-tanya apakah keinginan saya terlalu berpusat pada diri saya sendiri, tulis mahasiswa itu. Pada dasarnya, keinginan saya untuk berhasil dalam bisnis adalah untuk mendapatkan pribadi, tidak harus melayani orang lain. Barangkali saya seorang yang pesimis, namun saya merasakan bahwa sebagian besar pengusaha mula-mula mencari imbalan pribadi. Sebagai mahasiswa bidang bisnis, saya bertanya-tanya mengenai etika bisnis��kenakan harga setinggi-tingginya untuk suatu produk yang dibuat oleh orang lain yang dibayar dengan serendah-rendahnya. Anda dapat hidup mewah dari perbedaan harga itu. Sebagai seorang manajer bisnis, apakah saya akan hidup dari usaha orang lain, bukan dari usaha saya sendiri? Apakah saya akan menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat, ataukah saya akan menerima sesuatu, tapi tidak memberikan apa pun? Inilah pertanyaan-pertanyaan sulit bagi saya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah dibuat menjadi semakin sulit oleh pertanyaan di masa sekarang. Masyarakat kita sekarang, seperti masyarakat materialistis di masa lampau, dipenuhi oleh oleh orang-orang yang mengajarkan bahwa keuntungan itu adalah hal yang baik. Namun, jangan salahkan Sekolah Tinggi Niaga! Kaum filsuf, para pengusaha, dan tukang pamer yang licik, telah memulai permainan ini 2.500 tahun yang lalu, dan Anda tidak dapat menyalahkan orang lain yang ingin memasuki hal yang begitu menguntungkan itu. Para dokter dan master yang pandai selalu mengetahui bagian mana yang menguntungkan, dan mengambil tempat di posisi itu. Jangan mengkhawatirkan bahwa pihak manajemenlah yang menjalankan segala sesuatunyamereka sudah dari dulu begitu.

Sebagian besar kaum muda datang ke sekolah manajemen kita hanya karena mereka percaya bahwa teka-teki ini akan membantu mereka menghadapi dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa hal mulai lepas kendali. Perekonomian, yang dulunya merupakan hal terpenting dalam hidup kita yang materislistik, menjadi hal satu-satunya. Kita telah didorong ke dalam pengabdian total pada Perekonomian yang, bagaikan lumpur longsor, dengan cepat menelan dan menyesakkan segala-galanya.

Siapa yang dapat menahan longsor, memperbaiki arah, dan menghentikan perubahan ini? Hanya pemimpin yang sudah mencapai pencerahan.

 
Disarikan dari artikel Management vs. Leadership by Hugh Nibley dari buku : A New Paradigm of Leadership : Visions of Excellence for Tomorrow’s Organizations edited by Ken Shelton.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: