• Meta

  • Terbanyak Dilihat

  • Arsip

  • Glary Utilities – Fix, speed up, maintain, and protect your PC. Freeware.

    Glary Utilities

  • Visitors

    free counters

Gaji Tinggi Bukan Segalanya

Mengapa perputaran karyawan tinggi walaupun remunerasinya di atas rata-rata?
Uangkah pemicunya? Atau ada faktor lain yang menentukan kesetiaan mereka?

Akhir tahun lalu, Lesmana, seorang teman lama yang ahli dalam pengembangan bisnis telekomunikasi mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan multinasional untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia . Dia tertarik dan memutuskan untuk  bergabung. Dia telah banyak mendengar tentang pimpinan perusahaan ini, yang sering diberitakan sebagai pemimpin visionaris dan legendaris.  

Gaji Lesmana besar, perlengkapan kantornya mutakhir, teknologinya canggih, kebijakan SDM-nya pro-karyawan, kantornya megah di daerah segitiga emas, bahkan kantinnya menyajikan makanan yang lezat dan murah. Dua kali dia dikirim keluar negeri untuk pelatihan. "Proses pembelajaran saya adalah yang tercepat di sini,"kata Lesmana. "Sungguh menakjubkan bekerja dengan dukungan teknologi mutakhir seperti di perusahaan ini".

Siapa nyana dua minggu lalu, belum genap tujuh bulan bekerja di perusahaan itu, dia mengundurkan diri. Lesmana belum mendapatkan tawaran pekerjaan lain, tapi dia tidak sanggup lagi bertahan di sana. Belakangan, sejumlah karyawan di divisi yang sama dengannya ikut resigned. Direktur utama perusahaan itu pun merasa tertekan karena perputaran (turnover) karyawan sangat tinggi. Cemas memikirkan biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan untuk alokasi dana pelatihan karyawan. Ia juga bingung lantaran tidak tahu apa gerangan yang terjadi. Mengapa karyawan yang bertalenta bagus ini mengundurkan diri, padahal gajinya sudah cukup tinggi?

Lesmana resigned karena beberapa alasan. Alasan ini juga yang menyebabkan sebagian besar karyawan lain yang bertalenta tinggi akhirnya mengundurkan diri.

Beberapa survey membuktikan bahwa jika anda kehilangan karyawan berbakat,  periksalah atasan langsung mereka. Si atasan adalah alasan utama karyawan tetap bekerja dan berkembang dalam suatu perusahaan. Namun dia jugalah yang menjadi alasan utama mengapa para karyawan berhenti dari pekerjaannya, membawa pergi pengetahuan, pengalaman dan klien mereka. Bahkan tidak jarang selanjutnya secara terang-terangan berkompetisi dengan perusahaan bekas tempatnya bekerja.

"Karyawan meninggalkan manajernya bukan perusahaannya, "kata para ahli SDM. Begitu banyak  uang yang telah dikeluarkan untuk tetap mempertahankan karyawan berbakat, baik dengan memberikan gaji lebih tinggi, bonus ekstra maupun pelatihan mahal. Namun pada akhirnya, perputaran karyawan kebanyakan disebabkan oleh manajer/pimpinannya , bukan oleh hal lain.

Jika anda mengalami masalah turnover , maka pertama-tama periksalah kembali para manajer anda. Apakah mereka biang keladi yang membuat para karyawan tidak betah?. Pada tahap tertentu, karyawan tidak lagi melihat jumlah uang yang ia dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana mereka diperlakukan dan seberapa besar perusahaan menghargai mereka.. Kedua hal ini umumnya tergantung dari sikap para pimpinan terhadap mereka. Dan sejauh ini, bekerja dengan atasan yang buruk sering dialami oleh para karyawan yang bekerja dengan baik. Survey majalah Fortune beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa 75% karyawan menderita karena berada di bawah atasan yang menyebalkan.

Dari seluruh penyebab stress ditempat kerja, seorang atasan yang jahat mungkin adalah hal yang terburuk,yang secara langsung akan mempengaruhi kinerja dan mental para  karyawan.
 
Simak saja kisah yang dikutip langsung dari"medan perang" ini. Mulya seorang  insinyur, masih bergidik saat membayangkan hari-hari dimana ia dimaki-maki bos di depan staf lainnya. Atasannya itu sering menghina dengan kata-kata yang kasar. Waktu menghadapi hal menakutkan itu, Mulya praktis tak punya nyali untuk menjawab. Ia kembali ke rumah dengan perasaan tidak keruan dan mulai menjadi kasar seperti sang atasan. Bedanya kekesalan ini dilampiaskan ke istri dan anak-anaknya, kadang juga ke anjing peliharaannya. Lambat laun, bukan pekerjaan Mulya saja yang kacau balau, pernikahan dan keluarganya pun hancur berantakan.

Nasib Agus juga setali tiga uang. Menceritakan "penyiksaan" yang dilakukan oleh bosnya gara-gara ada perbedaan pendapat yang tidak terlalu penting antara keduanya. Atasan Agus benar-benar menunjukkan rasa tidak suka terhadapnya. Ia tidak lagi diikut-sertakan dalam pengambilan keputusan. "Bahkan dia tidak lagi memberikan saya dokumen maupun pekerjaan baru," keluh Agus. "Sangat memalukan duduk di depan meja kosong tanpa tahu apapun dan tidak seorangpun yang membantu saya". Lantaran tidak tahan lagi, lalu Agus mengundurkan diri.

Para ahli SDM mengatakan, dari segala bentuk kekerasan, tindakan memperlakuka karyawan ditempat umum adalah yang terburuk. Pada awalnya, si karyawan mungkin tidak langsung mengundurkan diri, akan tetapi pikiran itu sudah tertanam. Jika kejadian terulang lagi, pikiran tersebut akan semakin kuat. Dan akhirnya, pada kejadian yang ketiga, karyawan itu akan mulai mencari pekerjaan lain. Ketika seseorang tidak bisa membalas kemarahannya, ia akan melakukan pembalasan "pasif". Biasanya dengan cara memperlambat pekerjaan, berleha-leha, hanya melakukan pekerjaan yang disuruh atau menyembunyikan informasi penting.
"Jika anda bekerja untuk orang yang menyebalkan, pada dasarnya anda ingin orang itu mendapat kesulitan. Jiwa dan pikiran kita tidak menyatu lagi dengan pekerjaan kita," papar Agus.

Para manajer bisa menekan bawahan melalui beragam cara. Misalnya dengan mengontrol bawahan secara berlebihan, curiga, menekan, terlalu kritis, bawel dan sebagainya. Namun para atasan tersebut tidak sadar bahwa karyawan bukan merupakan aset tetap, mereka adalah manusia bebas. Jika ini terus berlanjut, maka seorang karyawan akan mengundurkan diri, walau tampaknya cuma karena masalah sepele saja.

Bukan pukulan ke-100 yang menjatuhkan seseorang, tapi 99 pukulan yang di terima sebelumnya. Memang benar, karyawan meninggalkan pekerjaannya karena bermacam alasan untuk kesempatan yang lebih baik atau kondisi yang tidak memungkinkan lagi. Namun banyak yang semestinya tetap tinggal jika tidak ada satu orang (seperti atasan Lesmana) yang terus-menerus mengatakan," Kamu tidak penting, saya bisa dapat lusinan orang yang lebih baik dari kamu!".

Kendati tersedia segudang pekerjaan lain (terlebih dalam keadaan pengangguran tinggi sekarang ini), bayangkanlah sesaat, berapa biaya atas hilangnya seorang karyawan yang bertalenta tinggi.. Ada biaya yang harus dibayar untuk mencari pengganti, ada biaya pelatihan bagi pengganti karyawan tersebut. Belum lagi akibat yang ditimbulkan karena tidak ada orang yang mampu melakukan pekerjaan itu saat calon pengganti sedang dicari, kehilangan klien dan kontak yang dibawa pergi karyawan yang hengkang, penurunan moral karyawan lainnya, hilangnya rahasia penjualan dari karyawan tersebut yang seharusnya diinformasikan ke karyawan lainnya, dan yang terutama turunnya reputasi perusahaan. Lagi pula, setiap karyawan yang pergi, bagaimanapun juga akan menjadi"duta" untuk mewartakan hal yang baik maupun yang buruk dari perusahaan itu.

Kita semua tahu suatu perusahaan telekomunikasi besar yang orang-orang ingin sekali bergabung, atau suatu bank yang hanya sedikit orang ingin menjadi bagiannya. Mantan karyawan kedua perusahaan ini telah keluar untuk menceritakan kisah pekerjaannya. "Setiap perusahaan yang berusaha memenangkan persaingan harus memikirkan cara untuk mengikat jiwa setiap karyawannya, " kata Jack Welch mantan orang nomor satu di General Electric. Umumnya nilai suatu perusahaan terletak "diantara telinga" para karyawannya.   Karyawan juga manusia, punya mata, punya hati…

Comment:
Barangkali, ketrampilan dan kecakapan tehnislah yang membawa anda ke puncak kedudukan. Tak heran, karena pencapaian tujuan menuntut kemampuan tinggi. Namun, kepemimpinan bukan hanya soal kecakapan tehnis. Kepemimpinan juga adalah bagaimana anda memperlakukan orang-orang yang anda pimpin. Perlakuan adalah perhatian. Sedangkan memperhatikan tidak sekedar menawarkan angan-angan. Orang akan merasa sungguh-sungguh diperhatikan bila anda melakukan sesuatu yang nyata demi kesejahteraan mereka. Seorang jendral sejati akan menyelesaikan kebutuhan ransum, tempat berteduh dan kesehatan bagi pasukannya, sebelum ia memikirkan kebutuhan dirinya sendiri. Bila tiada lagi makanan yang tersisa, cukuplah baginya akar umbi-umbian. Bila tiada lagi tempat bernaung yang tersisa, tugasnyalah berteduh di ranting-ranting pepohonan. Seorang pemimpin sejati memperhatikan kesejahteraan pasukannya terlebih dahulu. Ini berarti menempatkan dirinya sebagai orang terakhir yang memperhatikan dirinya sendiri. Karena itulah seorang pemimpin disebut sebagai pemimpin; bukan pengikut.

Manajemen Versus Kepemimpinan

Jika ada suatu hal yang jelas-jelas menandai kemerosotan dan keruntuhan peradaban maupun perusahaan, itu adalah perubahan yang fatal dari kepemimpinan ke manajemen. Kesempurnaan adalah tanda dari kepemimpinan; dan hal yang sedang-sedang saja adalah tanda dari manajemen.

Kapten Grace Hopper, seorang nyonya tua dari angkatan laut, belum lama ini menarik perhatian kami pada sifat dari manajemen dan kepemimpinan yang secara alami bertentangan. Tidak ada seorang pun, katanya, yang pernah mengelola orang-orang di medan tempur. Ia ingin lebih menekankan pada ajaran kepemimpinan. Namun, kepemimpinan tidak dapat diajarkan lebih banyak lagi daripada kreativitas atau cara menjadi jenius.

Generalstab telah mencoba mati-matian selama seratus tahun untuk melatih suatu generasi pemimpin bagi angkatan bersenjata Jerman, namun tidak pernah berhasil sebab orang-orang yang memuaskan atasan mereka (para manajer), memperoleh jabatan tinggi, sementara orang-orang yang memuaskan mereka yang berpangkat rendah (para pemimpin), memperoleh teguran.

Para pemimpin adalah penggerak dan pengguncang, orisinal, penemu, tidak terduga, imajinaf, penuh dengan kejutan yang mempermalukan musuh di masa perang dan markas besar di masa damai. Para manajer adalah orang yang suka main aman, konservatif, dapat diduga, menyatukan orang-orang dalam organisasi dan pemain dalam tim, mengabdikan diri untuk menjaga kemantapan.

Para pemimpin besar memiliki gairah untuk persamaan derajat. Lihatlah Raja Daud dan Alexander Agung. Mereka merendahkan diri, berbagi makanan yang sama dengan anak buah mereka, memanggil anak buah mereka dengan nama depan, berbaris bersama mereka di tengah panas, tidur di atas tanah, dan yang pertama berada di atas tembok kota. Sebuah ode terkenal karangan seorang prajurit Yunani yang sudah lama menderita, Archilochus, mengingatkan kita bahwa para prajurit tidak dapat dibodohi dalam sekejap oleh seorang bertipe eksekutif yang mengira dirinya sebagai seorang pemimpin.

Di lain pihak, bagi para manajer, gagasan mengenai persamaan derajat adalah tidak pas, dan tentunya, kontra produktif. Di sini promosi, bonus, fasilitas, dan kekuasaan adalah nama permainannya, kekaguman dan penghormatan pada pangkat adalah segala-galanya. Menurut mereka inilah yang merupakan inspirasi dan motivasi bagi semua pria dan wanita yang baik. Apa jadinya manajemen tanpa pengurusan surat-surat yang kaku, aturan bertingkah laku, perhatian pada hubungan sosial, politik dan agama yang sesuai, pengawasan seksama terhadap kebiasaan dan tingkah laku, dan seterusnya yang memuaskan para pemegang saham dan memberikan rasa aman?

Jika kalian mencintaiku, kata sang pemimpin terbesar, kalian akan mematuhi perintahku. Jika kalian tahu sesuatu yang baik untuk kalian, kata sang manajer, kalian akan mematuhi perintahku, dan tidak macam-macam.

Itulah sebabnya mengapa kebangkitan manajemen selalu menandai kemerosotan budaya. Jika pihak manajemen tidak menyukai musik Bach, baiklah, tidak akan ada musik Bach; jika pihak manajemen menyukai kalimat sentimental murahan yang memuja-muja kualitas yang berguna bagi keberhasilan, semua kaum muda akan mengucapkan slogan panjang tersebut; jika selera pihak manajemen akan seni merupakan segala sesuatu yang akan dijual–selera murahan yang klise, membosankan, dan biasa sajaitulah yang akan kita dapatkan; jika pihak manajemen tertarik pada iklan cengeng yang mendayu-dayu, itulah yang akan didapatkan oleh masyarakat; jika pihak manajemen harus mencerminkan citra perusahaan dalam gedung-gedung baru yang trendi, namun berselera rendah, monumen tua yang baik akan diruntuhkan.

Menurut Hukum Parkinson, yang menunjukkan bagaimana pihak manajemen melahap semuanya, ia menambahkan suatu hal yang dinamakannya Hukum Pandir: Para manajer tidak akan mempromosikan orang yang kemampuannya dapat mengancam posisi mereka sendiri; oleh karena itu, saat kekuasaan manajemen menyebar semakin luas, mutu barang dan jasa perusahaan itu semakin menurun, jika hal itu masih memungkinkan. Singkatnya, sementara pihak manajemen menghindari persamaan derajat, mereka menerima hal yang berharga.

Di sisi lain, kepemimpinan adalah jalan keluar untuk meloloskan diri dari hal yang berharga. Semua simpanan karya seni, ilmu pengetahuan, dan sastra dari masa laluyang menjadi masukan bagi semua peradabandatang kepada kita dari segelintir pemimpin. Oleh karena mutu kepemimpinan itu sama di semua bidang, sang pemimpin hanyalah seorang yang menetapkan teladan tertinggi ; dan untuk melakukan hal itu dan membuka jalan menuju pengetahuan dan penerangan yang lenih tinggi, sang pemimpin harus menghancurkan kemapanan. Sebuah kapal akan aman jika berada di pelabuhan, kata Kapten Hopper saat berbicara tentang manajemen, namun sebuah kapal tidak dibangun untuk itu, tambahnya, menunjukkan adanya kebutuhan akan kepemimpinan. Para pemimpin sejati memberi inspirasi karena mereka memiliki inspirasi itu, mengejar tujuan yang lebih tinggi, tanpa ambisi pribadi, idealis, dan tidak mudah disuap.

Tentunya ada sebagian sifat manajer dalam setiap pemimpin, sebagaimana ada sebagian sifat pemimpin di setiap manajer. Rahasianya adalah bagaimana mencapai keseimbangan dan menetapkan prioritas. Dalam Alkitab, Kaum Ahli Kitab dan Farisi ditegur karena keberpihakan mereka pada suatu sisi: Mereka mengawasi hal-hal kecil dengan sangat seksama, namun saat menangani orang lain mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetian, yang kebetulan merupakan mutu kepemimpinan utama. Sang Guru berkeras bahwa kedua kondisi piliran itu perlu: Yang satu harus dilakukan (katakanlah mengenai pembukuan) dan yang lain jangan diabaikan. Namun ,orang buta membimbing orang buta membimbing orang buta, lanjutnya, yang membalik urutan prioritas, yang menepis nyamuk dalam minuman, tetapi menelan unta yang ada di dalam minuman itu. Begitu besar perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan sehingga hanya orang buta yang akan terbalik mengatur mereka. Namun, nampaknya hal itulah yang sedang kita lakukan sekarang ini.

Tentu saja, itulah yang telah dilakukan selama berabad-abad. Pada masa kehidupan Sokrates, kaum filsuf membesar-besarkan cara berpakaian dan bertingkah laku yang khusus. Tentu saja semua itu hanya untuk dipamerkan; itu merupakan berpakaian demi keberhasilan dengan pembalasan demi keseluruhan tujuan merek pendidikan retorika, yang mereka ciptakan dan jual dengan harga tinggi kepada kaum muda yang ambisius untuk membuat mahasiswa itu berhasil sebagai pengacara di pengadilan, tokoh pemimpin dalam kelompok masyarakat, atau seorang promotor yang sukses pada suatu bisnis beresiko dengan menguasai teknik-teknik yang tidak dapat ditolak dalam membujuk dan menjual barang yang ditawarkan oleh para filsuf.

Itulah pendidikan klasik yang kita anut akibat dorongan Santo Agustinus. Ia telah belajar dari pengalaman pahit bahwa ia tidak dapat mempercayai wahyu sebab ia tidak dapat mengendalikan hal itu. Hal yang dibutuhkan oleh masyarakat menurutnya adalah sesuatu yang lebih dapat ditangani dan diandalkan oleh masyarakat daripada wahyu atau bahkan nalar, dan itulah persisnya ditawarkan oleh pendidikan retorika.

Selama berabad-abad, jubah dan ijasah akademik tidak pernah gagal dalam menjaga masyarakat untuk menciptakan jarak, mengilhami suatu kekaguman yang layak bagi profesi tertentu, dan mengeluarkan hawa keagungan dan misteri yang sama baiknya dengan uang di bank. Empat fakultas, teologi, filsafat, kedokteran, dan hukum, telah menjadi tempat pertumbuhan yang tahan lama bukan hanya bagi kebijakan profesional, melainkan juga untuk ocehan dan bayaran yang dengan begitu murah hati diperlihatkan pada pandangan publik oleh Plato, Rebalais, Moliere, Swift, Gibbon, A.E. Housman, H.L. Mencken, dan lainnya.

Kelihatannya, para manajer mengetahui harga dari segala sesuatu, tapi tidak tahu nilai dari apa pun karena bagi mereka nilai terletak pada harganya. Bagi mereka uang adalah hal yang membuat bisnis dapat dikelolauang adalah angka murni; dengan mengubah semua nilai menjadi angka, segala sesuatu dapat dimasukkan ke dalam komputer dan ditangani dengan mudah dan efisien. Berapa harganya? menjadi satu-satunya pertanyaan yang perlu kita ajukan.

Tentu saja, pemikiran carilah kebebasan keuangan terlebih dahulu dan semua hal lain akan ditambahkan dikenal sebagai suatu pembalikan kitab suci dan suatu pemutarbalikan nilai yang tidak bermoral.

Untuk mempertanyakan kebenaran utama itu, seseorang hanya perlu mempertimbangkan upaya keras dari pikiran, keinginan, dan khayalan yang diperlukan untuk membela kebenaran tersebut. Saya tidak pernah mendengar, misalnya, ada seniman, pakar bintang, pakar ilmu alam, penyair, atlet, musisi, sarjana, atau bahkan politikus, yang bersama-sama memasuki lembaga pendidikan bergengsi, kelompok terapi, serangkaian kuliah, program tambahan, atau klinik guna menyiapkan diri dengan slogan, klise moral, atau latihan spiritual berupa dialog yang dilakukan secara cermat untuk menyerahkan diri mereka pada hal yang disebut pola pikir kekayaan.

Cabang ilmu pengetahuan kuno pun tidak bersandar pada para pengacara, manajer dari para manajer, untuk membuktikan pada dunia bahwa mereka tidak menipu. Mereka yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan kepada umat manusia menikmati pekerjaan mereka, dan tidak harus memberikan alasan, beriklan, atau berceramah untuk membuat diri mereka menikmati semua hal yang sedang mereka lakukan.

Dalam kelas saya terakhir, seorang mahasiswa manajemen bisnis yang lulus dengan kehormatan membuat sebuah karya tulis yang menarik, penuh instropeksi yang sehat. Berkali-kali saya bertanya-tanya apakah keinginan saya terlalu berpusat pada diri saya sendiri, tulis mahasiswa itu. Pada dasarnya, keinginan saya untuk berhasil dalam bisnis adalah untuk mendapatkan pribadi, tidak harus melayani orang lain. Barangkali saya seorang yang pesimis, namun saya merasakan bahwa sebagian besar pengusaha mula-mula mencari imbalan pribadi. Sebagai mahasiswa bidang bisnis, saya bertanya-tanya mengenai etika bisnis��kenakan harga setinggi-tingginya untuk suatu produk yang dibuat oleh orang lain yang dibayar dengan serendah-rendahnya. Anda dapat hidup mewah dari perbedaan harga itu. Sebagai seorang manajer bisnis, apakah saya akan hidup dari usaha orang lain, bukan dari usaha saya sendiri? Apakah saya akan menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat, ataukah saya akan menerima sesuatu, tapi tidak memberikan apa pun? Inilah pertanyaan-pertanyaan sulit bagi saya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah dibuat menjadi semakin sulit oleh pertanyaan di masa sekarang. Masyarakat kita sekarang, seperti masyarakat materialistis di masa lampau, dipenuhi oleh oleh orang-orang yang mengajarkan bahwa keuntungan itu adalah hal yang baik. Namun, jangan salahkan Sekolah Tinggi Niaga! Kaum filsuf, para pengusaha, dan tukang pamer yang licik, telah memulai permainan ini 2.500 tahun yang lalu, dan Anda tidak dapat menyalahkan orang lain yang ingin memasuki hal yang begitu menguntungkan itu. Para dokter dan master yang pandai selalu mengetahui bagian mana yang menguntungkan, dan mengambil tempat di posisi itu. Jangan mengkhawatirkan bahwa pihak manajemenlah yang menjalankan segala sesuatunyamereka sudah dari dulu begitu.

Sebagian besar kaum muda datang ke sekolah manajemen kita hanya karena mereka percaya bahwa teka-teki ini akan membantu mereka menghadapi dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa hal mulai lepas kendali. Perekonomian, yang dulunya merupakan hal terpenting dalam hidup kita yang materislistik, menjadi hal satu-satunya. Kita telah didorong ke dalam pengabdian total pada Perekonomian yang, bagaikan lumpur longsor, dengan cepat menelan dan menyesakkan segala-galanya.

Siapa yang dapat menahan longsor, memperbaiki arah, dan menghentikan perubahan ini? Hanya pemimpin yang sudah mencapai pencerahan.

 
Disarikan dari artikel Management vs. Leadership by Hugh Nibley dari buku : A New Paradigm of Leadership : Visions of Excellence for Tomorrow’s Organizations edited by Ken Shelton.

Mengubah Pola Pikir

Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat asing di luar kota . Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa. Karena lapar,  mereka terpaksa menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor  anjing  yang  ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya. Keesokan harinya,  ketika  mendengar anjing itu mati, semua orang menjadi cemas. Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang diare. Seorang dokter dipanggil untuk merawat  para  penderita  keracunan makanan. Kemudian  sang  dokter mulai mencari sebab-musabab kematian  si anjing  yang  dijadikan  hewan percobaan  tersebut. Ketika dilacak, eh ternyata anjing itu sudah mati karena terlindas mobil. Apa yang menarik dari cerita di atas ? 

Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. We see the world as we are, not as it is. Akar  segala  sesuatu adalah cara kita melihat. Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan.   Ini disebut sebagai model  See – Do – Get …Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat ; 

Ada cerita menarik mengenai  sepasang  suami-istri yang  telah bercerai. Suatu  hari, Astri, nama wanita ini, datang  ke  kantor Roy, mantan  suaminya. Saat  itu  Roy sedang  melayani  seorang pelanggan.  Melihat Astri  menunggu  dengan gelisah, pimpinan  kantor menghampirinya dan lalu mengajaknya berbincang-bincang.  Si Bos berkata, "Saya begitu senang, suami  Anda  bekerja untuk saya.  Dia seorang yang  sangat berarti dalam perusahaan kami, begitu penuh perhatian dan baik budinya." Astri terperangah mendengar pujian si bos,  tapi ia tak berkomentar apa-apa. Roy ternyata  mendengar  komentar  si bos. Setelah  Astri  pergi, ia menjelaskan  kepada  bosnya, "Kami tak hidup  bersama  lagi sejak 6 bulan lalu,  dan  sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan  uang  untuk  putra  kami. "Beberapa  minggu  kemudian  telepon berbunyi untuk Roy.Ia mengangkatnya dan berkata, "Baiklah Ma, kita akan  melihat  rumah itu bersama setelah jam kerja."  Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, "Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami.  Dia  mulai  melihat  saya secara  berbeda  tak  lama setelah  Bapak berbicara padanya tempo hari."Bayangkan,  perubahan  drastis  terjadi  semata – mata  karena   perubahan dalam  cara  melihat. Awalnya, Astri mungkin melihat  suaminya  sbg  seorang  yang menyebalkan, tapi ternyata di mata orang  lain  Roy  sungguh  menyenangkan.  Astrilah  yang  mengajak  rujuk,  dan  mereka kembali menikmati rumah tangga yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Segala sesuatu  yang  kita  lakukan  berakar  dari  cara  kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah kehidupan kita,  kita  perlu  melakukan  revolusi  cara berpikir. 

Stephen Covey pernah mengatakan :  "Kalau  kita  menginginkan  perubahan kecil dalam hidup,  garaplah perilaku  kita,  tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan  yang besar dan mendasar, garaplah paradigma kita" Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda. Ini contoh sederhana :

Seorang anak  bernama  Alisa  yang  berusia  empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu  diperlukan  untuk  meningkatkan  perkembangan otak serta daya tahan tubuhnya. Betapapun dibujuk, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang ia dipaksa menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta.  Usaha tersebut memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan win-win solution. Si orang tua menang, ia kalah. Ini pendekatan yang dimulai dengan Do. Maka ditemukanlah cara lain yaitu dengan mengubah paradigma Alisa. Si orang tua tau Alisa sangat suka sirup,  karena  itu  minyak  ikan  tersebut  di aduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati "sirup" minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum "sirup" tersebut.  Contoh  sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar).  Perubahan  ini  bersifat  sukarela dan datang dari Alisa sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan. Inilah perubahan yang diawali dengan See. Perubahan yang dimulai dengan Do, bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Perubahan seperti ini sering disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti Alisa saja, hal ini sudah bermasalah. Pendekatan hukum bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari celah-celah yang dapat dimanfaatkannya.Pendekatan SDM berusaha  mengubah  cara berpikir orang. Akar Korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai kesempatan menumpuk  kekayaan, bukannya sebagai amanah yang harus dipertanggung-jawabkan, selama itu pula korupsi tak akan pernah hilang. Inilah pendekatan inside-out. Memang  jauh  lebih  sulit, tetapi efek yang dihasilkannya  jauh lebih mendasar. Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah kehidupan, yang perlu Anda lakukan cuma satu :

" Ubahlah cara Anda melihat masalah "

Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan dan rahmat  yang terselubung. Orang-orang ini sangat berjasa bagi kita  karena dapat membuat kita lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar.

John Gray, pengarang buku Men Are from Mars and Women Are from Venus, melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda. Ujarnya, "Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh" 

selingan humornya , …. 

*DR. Usman CHaniago MSc* 

Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh. Suatu Hari dia minta berhenti bekerja pada Bp.Camat.  Alasan dia karena akan mencoba mengadu nasib merantau ke Jakarta. 

Di Jakarta mula-mula dia bekerja sebagai tukang kantau di Tanah Abang. Dia terbilang amat rajin dan Ulet dalam bekerja. 

Setelah terkumpulkan sedikit demi sedikit modal, Dia mencoba untuk usaha sendiri.  Dia mulai menggelar dagangan di pinggiran jalan Tanahabang. 

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian…. Dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar, Merasa sudah semakin berhasil Dia pun ingin berkeluarga. Hampir 3 Tahun sudah dia menikah dan memiliki 2 anak. Tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI. 

Di Komplek tersebut Dia cukup terpandang karena rumahnya yang lebih besar serta banyak orang komplek menaruh perhatian pada dirinya, namun…. 

Ada hal yang membuat-nya agak canggung, karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada PhD.dll. Usman merasa malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya. 

Oleh sebab itu maka dibuatlah Papan naman dari perak, dipesan dari Kotogadang, dengan nama DR. Usman Chaniago MSc. 

Suatu ketika ayahnya datang berkunjung ke rumah-nya. Alangka bangga dia begitu melihat nama anaknya di papan nama depan rumah, kemudian dia bertanya dengan nada gembira dan bangga,(karena setahu dia, Usman hanya tamatan SMP dan setelah itu bekerja jd sopir dan hanya berdagang).

Kata ayah Usman :

Wah…wah.. Aba betul-betul bangga ini Usman, sampai terkejut dimana anak ambo kuliah, nie ??? *

Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama :

Ahh, Aba…!!! DR. Usman Chaniago MSc iko  maksudnyo… …

*Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat.  

BADAI PASTI BERLALU

Masa Sulit Pasti Berlalu, Manusia Tegar Pasti Bertahan.

Hidup kita akan terus menghadapi berbagai macam masalah dan masalah-masalah itu sebenarnya akan terus ada selama kita masih hidup di dunia ini. Apabila kita mencapai suatu keberhasilan, misalnya sukses di tempat kerja yang membawa kita ke jenjang karier yang lebih tinggi atau sukses menjalankan usaha kita sendiri bukan berarti masalah itu akan selesai disitu juga. Tetapi sebaliknya sebenarnya kita sedang di hadapkan kepada permasalahan baru seiring dengan kesuksesan yang baru kita raih juga. Sebuah fatamorgana apabila seseorang menganggap dirinya telah lepas dari permasalahan, tetapi bukan berarti permasalahan-permasalah itu juga tidak akan terselaikan. Step by step ada jalan keluar untuk permasalah yang kita hadapi, dan hanya Manusia Tegar Pasti Bertahan dari setiap permasalah-permasalah itu.

“Rahasia dari keberhasilan adalah berusaha menemukan suatu kebutuhan dan berusaha memenuhinya.” Menakjubkan menyadari apa yang dapat diperbuat Tuhan kalau kita memberiNya cukup waktu untuk melaksanakan rencanaNya! Jangan takut untuk mencoba memulai sesuatu, karena tidak mungkin gagal sama sekali kalau Anda berani mencoba. Orang yang dapat mengatasi masa sulit adalah orang yang tidak berhenti meyakini. Mereka memiliki keyakinan atas diri sendiri dan Tuhan mereka serta terhadap ide-ide yang diberikan Tuhan kepadanya. Para pemenang ini – kaum yang selamat – berdoa memohon bimbingan Tuhan, dan kalau mereka telah mengetahui apa yang harus mereka lakukan, mereka segara bertindak.

Alkitab mengatakan “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Tim 1:7).

Tidak perlu merasa takut, kata-kata dibawah ini akan membuat Anda menjadi orang yang Anda inginkan :

 

            Kegagalan tidak berarti Anda gagal…

                        namun Anda belum berhasil.

            Kegagalan bukan berarti tidak mencapai apa-apa…

                        namun Anda telah memahami sesuatu.

            Kegagalan bukan berarti Anda bodoh…

                        namun berarti Anda memiliki banyak keyakinan.

            Kegagalan tidak berarti Anda tidak diberkati…

                        namun Anda berkemauan untuk mencoba.

            Kegagalan tidak berarti Anda tidak memilikinya…

                        namun Anda harus mencobanya dengan cara lain.

            Kegagalan tidak berarti Anda lemah…

                        namun Anda kurang sempurna.

            Kegagalan tidak berarti Anda menyia-nyiakan hidup…

                        namun Anda memiliki alasan untuk memulai yang baru.

            Kegagalan tidak berarti Anda harus menyerah…

                        namun Anda harus mencoba lebih keras.

            Kegagalah tidak berarti Anda tidak pernah akan berhasil…

                        namun Anda hanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama.

            Kegagalan tidak berarti Tuhan mengabaikan Anda…

                        namun Tuhan memiliki ide yang lebih baik!

 

Dikuatkan dengan kutipan Kitab Suci ini kepada Anda: ‘Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaku mengenai kamu, … yaitu rancangan damai sejahtera, dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadaMu hari depan yang penuh harapan’ (Yeremia 29:11). Tuhan memberikan kepadaMu hari depan yang penuh harapan, sekeras apapun tantangan yang Anda hadapi sehebat apapun badai yang melanda kehidupan Anda, yakin dan terus bertahan menjalani masa-masa kesukaran itu adalah sebagian dari proses pembentukan Tuhan kapada kita. Knute Rockne menyebutnya sebagai: “Kalau keadaan semakin sulit, yang tegar akan bertahan.” Kalau jalannya kasar, yang tegar akan muncul pada kesempatan ini. Mereka menang. Mereka selamat muncul ke atas!. Kekuatan bertahan dapat memberikan kekuatan untuk menggerakan gunung. Bahkan gunung pun dapat luruh dengan waktu, kalau didera oleh angin dan hujan. Ilustrasi berikut ini mungkin lebih mudah di pahami oleh kita:

Orang dapat diibaratkan seperti kentang. Setelah kentang dipanen, harus disebar dan pilih untuk mendapatkan nilai penjualan setinggi mungkin. Dibagi-bagi menurut ukurannya – besar, sedang, kecil. Ini cara yang digunakan petani kentang Idaho – kecuali satu.

Seorang petani sama sekali tidak pernah merasa harus repot-repot memilih kentangnya. Walau demikian tampaknya ia berhasil mendapatkan uang paling banyak. Tetangganya yang keheranan bertanya kepadanya, “Apa rahasia Anda?” Ia menjawab, “Mudah saja. Saya langsung memuat kentang ke dalam truk dan memilih jalan paling kasar untuk pergi ke kota. Dalam perjalan sejauh delapan mil, kentang-kentang kecil akan dengan sendirinya jatuh kebawah. Yang berukuran menengah akan diam di tengah, sementara yang besar terkumpul di atas.” Ini tidak hanya berlaku pada kentang. Ini juga kaidah kehidupan. Kentang besar muncul di atas dalam perjalanan yang kasar, dan manusia tegar muncul ke atas pada masa-masa yang sulit.

Sekali lagi, masalah itu akan terus ada selama kita masih di dunia ini. Tetapi jangan menyerah, yakin, bertahan dan tetap tegar menjalani setiap permasalahan, ciptakan ide-ide baru untuk terus berkreasi dengan pandangan positif, berdoa memohon tuntunan Tuhan pasti semua badai permasalah akan berlalu. “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar bihi sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Matt 17:20).

Tetap berkarya dan Tuhan memberkatiMu!.

۩ Nyoman Iriandi ۩
(Dikutip dari buku "Badai Pasti Berlalu" karangan Robert H. Sehuller)

SUSTAINABLE SUCCESS

Kesederhanaan bukan berarti bodoh. Kesederhanaan dalam pola pikir dan tindakan merupakan pencapaian tingkat intelektualitas yang tertinggi.

 

Kecuali Anda mendapat durian runtuh, seperti warisan atau undian, maka kesuksesan harus ditebus dengan harga cukup mahal. Anda sekolah tinggi-tinggi, menyiapkan waktu ekstra, dan terus menerus berusaha, sebelum kesuksesan menghampiri. Itupun bukan garansi seratus persen kesuksesan akan tiba. Ketika Anda sudah sukses, pepatah “Semakin tinggi maka semakin kencang anginnya” akan berlaku. Waktu Anda akan semakin sempit, bahkan mungkin akan dicemburui.

Dunia koorporasi lebih kompleks daripada tingkat individu. Kesuksesan suatu perusahaan akan memancing kompetitor baru yang mencoba mencuri pasar Anda. Tidak hanya itu imitasi atau “me-too” lazim menjadi strategi cepat untuk mencuri kesuksesan. Kecemburuan tidak hanya muncul dari kompetitor, konsumen Anda juga menjadi “benci tapi rindu”. Mereka benci melihat suatu perusahaan meraih kesuksesan dalam jangka waktu cukup panjang, apalagi bila kesuksesan itu berujung pada dominasi. Mereka akan mencoba mencari dan bersimpati pada sang “underdog”. Sederhananya, ketika korporasi Anda sukses, maka everybody will be gunning at you.

Ilustrasi terakhir dalam kesuksesan dalam industri teknologi tinggi adalah Google.com. Mungkin Anda sudah bosan membaca atau mendengar cerita sukses mereka pada tahun 2005. tapi itulah realitas. Pemenang selalu mendapatkan liputan media utama. Google.com dianggap gold mine, lebih jauh lagi dianggap penyelamat industri iklan internet yang hampir karam akibat bubble economy. Yang menjadi pertanyaan, apakah kesuksesan Goole.com bersifat sustainable atauhanya menjadi bagian dari letupan positif dalam tren ekonomi? Terus terang, hanya waktu ke depan yang dapat menjawab. Terlepas dari nasib Google.com, ada beberapa prinsip dari sustainable success, bila kita mau meluangkan waktu sejenak untuk melihat sejarah dan pengalaman.

 

Prinsip Sustainable Success

Prinsip pertama adalah sedia payung sebelum hujan. Hidup adalah roda yang berputar merupakan pernyataan pendek yang menggambarkan kejujuran yang kita hadapi semua. Kesuksesan hari ini tidak akan bertahan lama, kecuali kita mempersiapkan diri untuk kesuksesan di hari esok.

Microsoft contohnya. Sang “raja” ini terkenal memiliki cadangan likuiditas yang sangat kuat, bahkan konon terbanyak di dunia. Cadangan ini membuat Microsoft menjadi fleksibel untuk memasuki banyak peluang baru. Beranjak dari operating system dan office application, Microsoft saat ini sudah masuk ke dalam industri games, baik hardware maupun content, network, dan database application, internet dan yang terakhir adalah applikasi untuk mobile.

Prinsip kedua adalah mentalitas pemenang. Sering kali perusahaan mendapatkan lucky break dan kesuksesan tiba-tiba muncul. Tetapi, hanya perusahaan yang memiliki mental pemenang yang dapat mempertahankan kesuksesan ketika lucky break sudah memudar. Perusahaan yang bermental pecundang akan terjebak dalam perilaku nonefisien dan nonefektif, di mana mereka merasa bahwa kesuksesan akan berlangsung selamanya, tanpa perlu terus dipupuk.

Prinsip ketiga adalah perilaku adaptif. Mungkin lagi-lagi Anda sudah bosan membaca dan mendengar kata adaptif, tetapi demikian adanya. Banyak perusahaan telah terkubur atau menjadi sasaran dari hostile take-over akibat sikap keras kepala terhadap perubahan.

Prinsip substainable success tidak serumit seperti yang dibayangkan. Untuk apa rumit, yang penting adalah penerapannya. Hal ini kembali terkait dalam prinsip keempat, yaitu kesederhanaan.

Keserdahanaan bukan berarti bodoh. Kesederhanaan dalam pola pikir dan tindakan merupakan pencapaian tingkat intelektualitas yang tertinggi.

Semoga semua ini dapat membantu Anda atau perusahaan yang Anda miliki atau pimpin.

 

 

by : Rhenald Kasali

        Ketua Program Ilmu Manajemen-Pasca Sarjana UI.

Menjadi Pribadi yang Menarik di Tempat Kerja

Siapa yang tidak ingin memiliki kepribadian yang menarik dan disenangi oleh semua orang? Siapa pula yang tidak senang dikagumi oleh banyak orang? Apalagi di tempat kerja? Untuk bisa tampil menarik di tempat kerja berikut beberapa langkah dan latihan yang dapat ditempuh:

Gunakan gaya bicara yang positif.
Gaya bicara yang negatif atau merendahkan diri sendiri, dengan cepat akan menempatkan anda sebagai pribadi yang kurang punya rasa percaya diri. Contoh gaya bicara negatif dengan menggunakan label-label bermakna negatif misalnya bodoh, tolol, brengsek, tidak punya otak, salah melulu, gitu aja tidak bisa dsb. Untuk menjadi pribadi yang percaya diri, gaya bicara negatif harus digantikan dengan gaya bicara positif. Gaya bicara positif meliputi gaya bicara dengan penggunaan kata-kata dan kalimat-kalimat yang positif. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan berusaha belajar berbicara secara positif tentang diri sendiri.

Berani bertanggung jawab.
Ada orang yang percaya bahwa yang mengendalikan nasib mereka adalah diri mereka sendiri. Keberanian menyakini hal ini tentu saja memunculkan suatu tanggung jawab yang besar bahwa hal-hal buruk dan baik yang menimpa diri mereka tidak lain dan tidak bukan adalah berasal dari diri sendiri. Bukan dari hal-hal yang bersumber dari luar diri mereka. Keberanian bertanggung jawab ini juga menjadikan individu lebih percaya diri untuk mengambil alih hal-hal yang bisa menjadi tanggung jawab pribadinya. Kemampuan bertanggung jawab ini juga akan memunculkan sikap percaya diri dan pencitraan diri yang positif. Orang-orang yang tidak berani bertanggung jawab biasanya cenderung menganggap bahwa faktor-faktor di luar dirinya yang menentukan jalan hidupnya. Apabila ada keberhasilan, mereka mengatakan bahwa hal itu adalah keberuntungan semata. Dan sebaliknya bila ada kegagalan, mereka cenderung menyalahkan faktor di luar dirinya atau akibat dari perbuatan orang lain.

Kembangkan dinamika pribadi.
Untuk mengembangkan dinamika pribadi ada beberapa keterampilan diri yang perlu diasah antara lain:

·  Ketampilan mengungkapkan perasaan dengan tegas

·  Kemampuan menunjukkan ekspresi wajah yang ramah

·  Kemampuan berbicara optimis

·  Kemampuan menunjukkan sorot mata dan tingkah laku yang berwibawa melalui penampilan diri yang anggun, rapi dan bersih

·  Pelajari etika pergaulan di tempat kerja yang baik

Asah keterampilan dengan menggunakan bahasa verbal dan non-verbal.
Bahasa verbal yang efektif misalnya:

·  Hindari kata-kata dan suara jeda yang tidak perlu, misalnya: e….. e….

·  Buat kesimpulan didukung data dan bukan berdasar perasaan atau keyakinan saja

·  Perlunya berbasa-basi walaupun jangan terlalu banyak

·  Tunjukkan perhatian dengan menanyakan mengenai keadaan orang yang kita ajak bicara misalnya wajahnya tampak pucat hari itu dll.
Bahasa non-verbal yang mengesankan meliputi:

·  Ekspresi yang penuh semangat

·  Cara berbusana yang sopan dan tampak profesional

·  Penampilan wajah dan tubuh yang menarik

Kembangkan pengetahuan yang memadai.
Dasar untuk tampil percaya diri adalah adanya pengetahuan yang menunjang dalam mencari alternatif-alternatif solusi untuk berbagai persoalan atau permasalahan. Intuisi memang penting tetapi membuat keputusan berdasar fakta lebih membantu dalam menumbuhkan percaya diri dan memunculkan citra diri yang lebih positif. Sebanyak mungkin dapatkan informasi tentang hal-hal yang sedang terjadi dalam dunia ini baik melalui TV,
surat kabar, majalah, maupun internet.

Bersikap fleksibel terhadap berbagai perubahan.
Tunjukkanlah sikap terbuka terhadap perubahan yang ada dalam perusahaan. Jangan berkesan negatif dengan mengungkapkan kata-kata seperti, "Percuma saja diubah-ubah juga akan kembali sama seperti dulu lagi" dll. tapi tanggapi perubahan yang ada dengan keoptimisan, dengan demikian kita akan terlihat sebagai orang yang memiliki citra diri positif dan kuat./Dikutip Dari : IQEQ.web.id /@dunia

Resep Jitu Agar Tetap Termotivasi

1.      Perlahan Sedikit.
Banyak para karyawan pemula, dalam kombinasi antara antusiasme dan ketidaksabaran, melakukan latihan terlalu banyak. Mereka berlatih terlalu banyak, terburu-buru dan terlalu sering. Ini mengakibatkan kelambanan, rasa sakit, kelelahan dan penurunan kemampuan umum lainnya atau dengan kata lain, justru mengurangi motivasi. Turunkanlah irama kecepatan Anda dan bersantailah sejenak. Hal tersebut akan menyelamatkan Anda dari tekanan-tekanan.

2.      Buat Rencana Kerja yang Matang.
Buatlah kesepakatan dengan diri sendiri (atau dengan seorang teman) untuk waktu dan tempat tertentu. Tepatilah kesepakatan tersebut sebagaimana Anda menepati janji. Jika Anda menetapkan waktu dan berniat menepatinya, maka Anda akan dapat melaksanakan rencana Anda. Hal tersebut akan membantu saat Anda berbagi komitmen atau menyampaikan pendapat Anda kepada mitra berlatih Anda.

3.      Jadwalkan Olahraga Pagi Hari.
Jika Anda dapat melakukan hal tersebut, Anda akan selalu memulai hari dengan perasaan telah melakukan sesuatu yang positif untuk diri Anda sendiri. Olahraga pagi juga dapat memberikan efek energis selama berjam-jam.

4.      Konsentrasi dalam Mencari Tingkat Pengembangan Diri.
Apakah Anda merasa lebih baik? Apakah Anda dapat mengatasi halangan yang ada? Apakah Anda belajar tentang diri dan kemampuan Anda dalam menepati kata-kata Anda sendiri? Apakah daya tahan atas kesabaran Anda berkembang? Buatlah grafik tentang kelebihan-kelebihan tersebut, tanpa perlu mengindahkan apakah jumlahnya sedikit atau banyak. Pola tertentu yang akan nampak, dapat Anda gunakan untuk membantu Anda melalui saat-saat sulit.

5.      Tepati Jadwal.
Anda akan mendengar banyak tentang ini dalam kolom-kolom selanjutnya. Sebagaimana kesepakatan para pakar penurunan berat badan atau Anda telah ketahui, kita tidak selalu setuju terhadap berbagai macam hal. Jurnal akan sangat membantu Anda untuk melihat pola-pola makanan, perubahan-perubahan suasana hati dan tingkat energi. Jika diterapkan dengan benar dan tepat, Anda akan memperoleh pengajaran yang bermanfaat tentang berbagai permasalahan penting diri Anda, serta hubungannya dengan kebutuhan akan makanan, seks, kenyamanan, citra dan berat badan.

6.      Jika Mulai Merasa Tak Tertarik, Ubah Kegiatan Anda.
Jika Anda berlatih di sebuah pusat kebugaran, cobalah untuk menggunakan fasilitas taman luar. Jika biasanya Anda berlari, cobalah menggunakan alat mendayung. Tambahkan sedikit beban atau ubahlah latihan beban yang biasa Anda lakukan untuk membuat Anda merasa lebih gembira.

7.      Buat Agar Menyenangkan.
Banyak orang yang merasa motivasi mereka menurun pada saat latihan menjadi sebuah tugas. Mungkin akan menyenangkan bila Anda bertanya pada diri sendiri, kegiatan macam apa yang membuat Anda punya kesempatan untuk senantiasa bergerak atau berpindah-pindah. Barangkali menari-nari selama setengah jam sambil mendengarkan CD kesukaan Anda? Bagus! Itulah hasil latihan Anda pada hari itu.

8.      Buat Agar Menyenangkan.
Atau jika mungkin, jadwalkan satu (atau tiga) acara dengan seorang pelatih. Masukan-masukan dari orang lain. Ibaratnya, dapat menggantikan rutinitas.